Revitalisasi Jembatan Otto Iskandardinata (Otista) di Kota Bogor memang bikin wajah kota makin kece, diresmikan langsung Presiden Jokowi pada 19 Desember 2023. Tapi di balik kemegahan itu, sekitar 1.500 warga Gang Lebak Pasar justru merasakan sisi gelapnya: akses jalan yang makin curam, licin pas hujan, dan minim pengaman. Isu transparansi anggaran plus keselamatan warga pun jadi sorotan tajam dari komunitas lokal.
Anggaran Misterius: Dari Rp50 Miliar Sampai Rp101 Miliar?
Nominal proyek ini bikin publik curiga karena angkanya beda-beda. Ada yang bilang Rp49–52 miliar dari lelang, Rp50 miliar yang disebut saat peresmian, sampai Rp101 miliar yang dikaitkan dukungan provinsi. Ketua Komunitas Bogoh Bumi Sunda, Supendy, bilang ketidakjelasan ini membuka celah spekulasi soal skema pendanaan. "Kami tidak sedang mempersoalkan pembangunan jembatan. Kami mempersoalkan tata kelolanya! Sampai hari ini, rincian komponen itu tidak pernah dipaparkan secara terbuka dalam satu penjelasan yang utuh dan transparan!" kata Supendy dalam keterangannya, Sabtu malam, 14 Februari 2026. Pemisahan biaya konstruksi, pembebasan lahan, penataan area, dan mitigasi sosial memang belum pernah dijelaskan lengkap, padahal ini soal dana publik yang harus transparan abis.
Akses Gang Lebak Pasar: Megah di Atas, Ngeri di Bawah
Pembongkaran jembatan lama mulai Mei 2023 bikin akses ditutup total, lalu pembebasan lahan via kompensasi administratif. Tapi hasilnya? Gang utama tiga RW kini punya kemiringan super curam yang bikin deg-degan. Saat hujan, air deras dari jembatan mengalir ke bawah, permukaan keras dan licin tanpa railing memadai atau jalur pisah pejalan kaki-motor. "Saat hujan, air dari badan jembatan mengalir deras ke bawah. Permukaannya keras dan licin. Tidak ada railing pengaman yang memadai. Tidak ada jalur terpisah antara pejalan kaki dan sepeda motor. Di atas, jembatan menjadi lebih megah. Di bawah, akses warga menjadi lebih berbahaya!" bebernya. Warga lansia tertatih cari pijakan, ibu-ibu pasar cemas di turunan, anak-anak dipaksa ekstra hati-hati. Motor sering kehilangan traksi, sudah ada yang jatuh meski tak semuanya tercatat resmi. Supendy bilang ini melanggar standar keselamatan PUPR yang idealnya 8–10 persen kemiringan—di sini konon jauh lebih ekstrem. Anti-slip, drainase bagus, railing? Hampir nihil. Dampaknya ke ekonomi mikro juga terasa: mobilitas turun, pembeli ogah lewat pas hujan, pendapatan pedagang kecil merosot.
Revitalisasi Jembatan Otista Bogor seharusnya jadi win-win, tapi kalau warga di bawahnya malah deg-degan tiap hari, kemajuan kota ini masih setengah jalan—karena kota sejati bukan cuma megah di permukaan, tapi aman sampai ke gang-gang kecilnya yang jadi denyut nadi kehidupan sehari-hari.
0Komentar