Bogor Channel

Berita

Artikel

Budaya

Acara

Video

Jambret Handphone, Pemulung di Bogor Ditangkap Polisi


Pria berinsial S (32) ditangkap polisi lantaran nekat menjambret handphone milik wanita di Jalan Jabaru I, Kelurahan Pasir Kuda, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Rabu (4/8/2021).

Kasubsie Penmas Polresta Bogor Iptu Rachmat Gumilar mengatakan peristiwa itu terjadi sekira pukul 10.00 WIB. Saat kejadian, diketahui korban berinisial LA (19) tengah berjalan bersama anak kecil.

"Pelaku datang ke lokasi menggunakan motor dan melihat korban berjalan bersama anak kecil kemudian diikuti oleh pelaku," kata Rachmat, dikonfirmasi.

Kemudian, pelaku membuntuti korban dari belakang yang masuk ke jalan sempit di tengah pemukiman padat penduduk. Ketika lengah, pelaku langsung menjambret handphone korban dan kabur.

"Korban lengah, pelaku mengambil dan merebut handphone yang dipegang korban," jelasnya.

Korban pun meminta bantuan warga sekitar untuk mencari pelaku. Hingga akhirnya, ada warga sekitar mengenali pelaku yang diketahui sebagai pemulung di sekitar lokasi kejadian dan dilakukan pencarian.

"Selanjutnya ditelusuri dan diketahui di alamat pelaku (tempat pengepul rongsokan," tambah Rachmat.

Selanjutnya, pelaku langsung diserahkan ke Polsek Bogor Barat untuk proses penyelidikan lebih lanjut. Atas perbuatannya, pelaku diancam Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan ancaman 5 tahun penjara.

"Pelaku sudah diamankan di Polsek Bogor Barat dan penyidik juga sudah mengamankan barang bukti satu unit handphone milik korban," tutupnya.

Sumber: SindoNews

Kebakaran Rumah di Bogor Renggut Nyawa Sepasang Kakek Nenek Renta


Sepasang kakek nenek renta, berinisial SA (89) dan AC (85), tewas saat rumahnya ludes terbakar , Rabu (4/8/2021) sekitar pukul 00.54 WIB. Kebakaran rumah di Kampung Hambulu, Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, diduga dipicu oleh obat nyamuk bakar.

Komandan Sektor Pemadam Kebakaran Parung, Napii mengatakan, sepasang kakek nenek berinisial SA dan AC meninggal dunia karena terjebak di dalam rumahnya yang terbakar.

Kedua korban, tambah Napii, kemungkinan tidak bisa menyelamatkan diri ke luar rumah dengan cepat ketika api dan kepulan asap membesar.

"Mungkin karena sudah tua, tidak bisa cepat. Jadi pingsan duluan kena asap," tutup Napii. Saat ini, jenazah keduanya dibawa petugas ke RS Dompet Dhuafa.

Napii mengatakan, sumber api diduga berasal dari obat nyamuk bakar yang merambat ke benda lain hingga membesar membakar rumah. "Kalau penyebab, dari laporan anggota dugaan sementara obat nyamuk bakar," jelasnya.

Empat unit mobil pemadam Kabupaten Bogor diterjunkan ke lokasi untuk menjinakan api. Sekitar pukul 05.00 WIB petugas berhasil memadamkan api.

Sumber: SindoNews

Ketahuan Sembunyi di Hutan, Pembunuh Pemilik Warung Kopi di Bogor Akhirnya Diringkus Polisi


Kepolisian Resor Bogor Kota mengamankan Saepul alias Epul (57) atas dugaan kasus pembunuhan yang dilakukannya terhadap seorang wanita berinisial NU.

Sebelumnya, NU ditemukan tak bernyawa di warung kopi miliknya di Jalan Abdullah bin Nuh, Kota Bogor, Jawa Barat, dengan kondisi luka parah di bagian kepala, pada Jumat (23/7/2021) lalu.

Kepala Polresta Bogor Kota Komisaris Besar Susatyo Purnomo Condro mengatakan, pelaku ditangkap di tempat persembunyiannya di dalam hutan di wilayah Kabupaten Sukabumi setelah buron selama satu pekan.

Susatyo menuturkan, dari hasil pemeriksaan diketahui motif pembunuhan tersebut dilatarbelakangi perasaan cemburu pelaku kepada korban.

"Motifnya, pelaku cemburu dengan korban. Ada hubungan spesial antara pelaku dengan korban," kata Susatyo, dalam konferensi persnya, Senin (2/8/2021).

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan pasal berlapis, mulai dari pembunuhan berencana dan pencurian dengan kekerasan.

Barang bukti yang diamankan, sambung Susatyo, berupa dua buah handphone serta sebilah kayu yang digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban.

"Ancaman hukumannya seumur hidup," sebut Susatyo.

Kepala Reskrim Polresta Bogor Kota Komisaris Polisi Dhoni Erwanto menambahkan, pelaku dengan korban sudah saling mengenal satu sama lain dan telah menjalin hubungan selama empat tahun.

Dhoni mengungkapkan, pelaku kemudian sakit hati dan cemburu setelah mengetahui korban telah menjalin hubungan dengan pria lain. Pelaku lalu merencanakan pembunuhan tersebut.

"Sebenarnya korban ini sudah diajak nikah sama pelaku. Tapi ternyata korban ini menjalin hubungan dengan orang lain. Makanya dia sakit hati, akhirnya melakukan pembunuhan yang memang sudah direncanakan,” beber Dhoni.

Kasus pembunuhan ini bermula ketika jasad korban ditemukan di dalam warung kopi miliknya, Jumat (23/7/2021).

Ketika itu, seorang petugas kebersihan mendengar suara teriakan dari dalam warung milik korban. Setelah dicek, ternyata korban sudah tergeletak dengan kondisi kepala luka parah.

Selain itu, anak korban yang berinisial DI (21), juga turut menjadi korban. Namun nyawa sang anak selamat setelah mendapat pertolongan di rumah sakit.

Sumber: Kompas

Koordinator BEM se-Bogor Dilengserkan Secara Paksa, Kok Bisa?


Kabar tidak sedap datang dari BEM se-Bogor yakni Koordinator BEM Se-Bogor, M Aditiya Abdurrahman resmi dilengserkan secara paksa.

Pelengseran koordinator BEM Se-Bogor, M Aditiya Abdurrahman itu secara tidak hormat pada Selasa 27 Juli 2021.

Hal ini di sampaikan Mandataris Media BEM Se-Bogor, Thifal Pratama Sanjaya melalui sidang istimewa dengan dihadiri 19 Kampus yang terdaftar dalam BEM Se-Bogor.

“Pada Minggu 25 Juli 2021, kami menyepakati point-point yang menjadi inti dari pada sidang istimewa tersebut, yang kemudian disepakati untuk dijadikan surat keputusan bersama (SK BEM Se-Bogor)," ujar Mandataris Media BEM Se-Bogor, Thifal Pratama Sanjaya, disitat dari Bogordaily.net -jaringan Suara.com, Senin (2/8/2021).

Kemudian Thifal memaparkan, adapun point-point yang tercantum di dalam SK tersebut antara lain ialah, penurunan secara tidak terhormat koordinator BEM Se-Bogor periode 2020-2021.

“Lalu musyawarah point-point tuntutan aliansi BEM Se-Bogor kepada M Aditiya Abdurahman selaku koordinator BEM Se-Bogor periode 2020-2021,” terangnya.

Thifal menjelaskan, seluruh anggota BEM Se-Bogor sepakat untuk mencabut dan menuntut hak kesekretariatannya secara penuh.

“Terlebih dengan dugaan adanya ketidaksesuian antara klarifikasi yang telah dibuat dengan kondisi yang ada,” jelasnya.

Selanjutnya, selain tuntutan yang telah disebutkan, BEM Se-Bogor menuntut kepada Aditiya Abdurahman untuk melakukan klarifikasi, terkait penyimpangan selama menjabat dengan sejujur-jujurnya maksimal 14 hari dari hasil sidang istimewa ini ditetapkan.

“Juga memutihkan dengan maksud tidak dianggap pernah menjabat sebagai koordinator BEM Se-Bogor selama periodenya, dalam hal sewenang-wenang yang tidak disepakati oleh anggota aliansi,” ungkapnya.

Menurut Thifal, dalam hasil sidang istimewa ini juga disepakati untuk membahas mengenai musyawarah besar di dalam konsolidasi, yang akan dilaksanakan 8 Agustus 2021 atau 14×24 jam terhitung dari pasca sidang istimewa dilaksanakan.

Hal ini dilakukan agar segera ada yang mengisi kekosongan dari BEM Se-Bogor.

“Sementara ini, kekosongan pada bagian koordinator, diserahkan kepada mandataris koordinator itu masing-masing berlandaskan dengan gerakan inisiatif dari para koordinator yang diamankan,” pungkasnya.

Sumber: Suara.com

Selama PPKM Level 4, Kasus Harian Covid-19 di Kabupaten Bogor Turun Drastis


Demi menekan penyebaran virus Covid-19 pemerintah telah memperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 sejak 26 Juli hingga 2 Agustus 2021.

Terkait pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat itu, Bupati Bogor, Ade Yasin pada Minggu, 1 Agustus 2021 kemarin, menyampaikan hasil selama PPKM Level 4 itu diberlakukan di wilayahnya.

Selaku Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pihaknya mencatat adanya penurunan drastis kasus harian penularan Covid-19 di wilayahnya selama PPKM Level 4.

"Hari terakhir kita pemberlakuan PPKM darurat kasus hariannya masih 900-an kasus per hari, tapi sekarang per harinya 300-an kasus," kata Ade Yasin.

Di sisi lain, berdasarkan data terakhir, pada 31 Juli 2021 terdapat tambahan 305 kasus positif baru, akan tetapi kini jauh berbeda dengan pada hari terakhir PPKM darurat pada 20 Juli 2021 yang tercatat tambahan 962 kasus positif baru.

Hingga saat ini, Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor mencatat 38.970 kasus positif selama pandemi dengan rincian 6.239 kasus aktif, 516 kasus meninggal dunia, dan 32.209 kasus sembuh.

Di samping itu, Ade Yasin juga menyebut bahwa angka penggunaan ruang perawatan intensif atau ICU terus mengalami penurunan meski tak signifikan.

"BOR (Bed Occupancy Ratio) ICU 70 persen data hari ini 1 Agustus 2021, turun terus setiap harinya meski tidak terlalu signifikan," ujar Ade Yasin.

Lebih lanjut menurutnya, angka keterisian tempat tidur ICU itu mengalami penurunan jika dibandingkan dengan angka keterisian sepekan terakhir yang masih di atas 88 persen dari total ketersediaan 157 tempat tidur (TT) ICU khusus pasien Covid-19.

Dalam hal ini, Ade Yasin juga mencatat ada penurunan pada jumlah keterisian tempat tidur rumah sakit (RS) khusus pasien Covid-19, yakni menjadi 61.49 persen.

Pasalnya, pada pekan lalu keterisian tempat tidur RS khusus pasien Covid-19 masih di atas angka 77.51 persen dari total ketersediaan 1.971 tempat tidur.

Ade Yasin menyebutkan bahwa penurunan tingkat keterisian tempat tidur juga terjadi di dua pusat isolasi pasien Covid-19 milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor.

Adapun seperti di Cibogo, yang pada pekan lalu terisi empat tempat tidur dari total 60 tempat tidur, kini nihil alias tak terisi.

Kemudian di Kemang pada pekan lalu terisi 37 tempat tidur dari total 84 tempat tidur, kini terisi 27 tempat tidur, sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Antara Senin, 2 Agustus 2021.

Tentunya Ade Yasin berharap, kondisi penanganan Covid-19 di Kabupaten Bogor terus membaik, sehingga pemerintah bisa melakukan sejumlah pelonggaran pada peraturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Kendati begitu, Ade Yasin menyadari bahwa ketatnya peraturan PPKM akan mempengaruhi kondisi perekonomian daerah karena serba terbatasnya mobilitas masyarakat.

"Adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar dan pembatasan kegiatan masyarakat, berdampak pada turunnya aktivitas produksi barang dan jasa terutama yang bertumpu pada sektor ekonomi sekunder dan tersier." ujar Ade Yasin.

Kota

Kabupaten

Pemerintah