Alun-alun Kota Bogor Akan Terintegrasi Masjid dan Stasiun


Proyek pembangunan Alun-alun Kota Bogor yang berlokasi di eks Taman Topi, Jalan Kapten Muslihat, Kecamatan Bogor Tengah bakal dibangun mulai tahun 2020 mendatang. Lahan seluas 17.118 meter persegi tersebut nantinya akan terintegrasi dengan Masjid Agung dan Stasiun Bogor.

Wali Kota Bogor, Bima Arya menilai secara umum desainnya keren dan ia menginginkan 5 dimensi terpenuhi, baik untuk konsultan maupun dinas terkait.

Pertama, Integrasi, karena secara tata ruang menghubungkan dari Stasiun Bogor, Masjid Agung dan titik lainnya, seperti jalan Kapten Muslihat, Jalan Dewi Sartika.

“Jadi, ini harus betul-betul dihitung, yang dari stasiun berapa orang dan dari daerah lain” katanya saat menghadiri FGD Laporan AKhir DED Alun-alun Kota Bogor di Paseban Sri Baduga, Balai Kota Bogor, Kamis (26/12/2019).

Kedua, Kontemplasi. Ini yang membedakan dengan alun-alun lainnya, harus ada space (ruang) untuk belajar sejarah, seperti mengenai pahlawan Kapten Muslihat, Dewi Sartika dan sejarah Masjid Agung.

“Karena dilokasi tersebut mengandung sejarah. Jadi, ruang kontemplasi ini digarap serius, berkolaborasi dengan Disparbud termasuk dengan Diskarpus,” kata Wali Kota.

Ketiga, Sinkronisasi. Harus nyambung betul antara stasiun Bogor, Masjid Agung dan bangunan lain. “Jangan sampai gak nyambung dengan masjid. Kemegahan alun alun harus terlihat,” tuturnya.

Keempat, Harmonisasi. Ini artinya infrastruktur penunjang harus siap, seperti trotoar, parkir dan aksesnya kemana saja.

Kelima, Beautifikasi, konsep yang bagus harus dilengkapi dengan pemilihan material yang terbaik, pohon, jogging track, termasuk toilet.

“Karena kita sudah mendeklarasikan The City of Runner (Kota Pelari). Nanti saya ingin melihat langsung bahan jogging tracknya. Kemudian ornamen sunda itu harus ada, baik dalam bentuk kujang atau apapun,” jelasnya.

Konsultan PT. Arenco Binatama, Prihantono menyebutkan, di Alun-alun Kota Bogor akan dilengkapi dengan TIC (Tourist Information Center) dan Diorama, Podium di area plaza, pohon Samida, servis penunjang (Pos Jaga, toilet, TPS), Ruang publik (Taman anak Outdoor Gym), Shelter di pedestrian jalan Dewi Sartika, lampu pedestrian, akses tangga area masjid dan area taman religi, taman jogging.

“Secara umum konsep kita ini bukan di lahan kosong, sehingga kompleksitasnya adalah bagaimana mengintegrasikan dengan RTH (Ruang Terbuka Hijau),” ujarnya.

Di Alun-alun Kota Bogor kata Prihantono, dibagi menjadi empat zona, yakni Zona Botani atau hutan kecil, Zona Rekreasi dan Olahraga, Zona Plaza dan Zona Religi. (Humpro :SZ/Indra).

Sumber: kotabogor.go.id

0 Komentar