TSd7TUO5TfC6BUM8BUr0BSz0
Light Dark
Pemkot Bogor Siapkan Pelican Crossing Gantikan JPO Paledang

Pemkot Bogor Siapkan Pelican Crossing Gantikan JPO Paledang

Daftar Isi
×

 

Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, akhirnya mengambil langkah serius terkait Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Paledang. Jembatan yang selama ini jadi jalur utama pejalan kaki menuju Stasiun Bogor itu dipastikan sudah tidak laik pakai. Sebagai gantinya, Pemkot menyiapkan pelican crossing agar pejalan kaki tetap aman menyeberang.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengungkapkan, keputusan ini diambil setelah adanya kajian teknis yang menyatakan konstruksi jembatan tersebut rapuh. "Ini fakta di lapangan, JPO sudah tua dan rapuh sehingga tidak boleh lagi dilintasi," ujar Dedie usai meninjau JPO Paledang, Rabu siang.

Menurutnya, kondisi jembatan yang sudah berusia tua memang tidak lagi memungkinkan untuk diperbaiki. Risiko keselamatan pengguna jauh lebih besar jika tetap dipertahankan. Oleh karena itu, Pemkot Bogor segera menyiapkan proses pembongkaran dan sekaligus penghapusan aset, supaya bisa segera diganti dengan fasilitas yang lebih aman dan modern.

Dedie menegaskan bahwa pihaknya kini sedang merampungkan proses administratif penghapusan aset. "Kami sedang mengecek administrasinya agar pembongkaran bisa segera dilakukan," kata Dedie. Dengan begitu, langkah nyata bisa segera dieksekusi tanpa menunggu terlalu lama.

Pelican Crossing Jadi Solusi Kota Modern

Sebagai solusi jangka panjang, Pemkot Bogor bersama PT KAI, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Dinas Perhubungan telah menyiapkan rekayasa lalu lintas khusus pejalan kaki. Salah satunya dengan menghadirkan pelican crossing, lengkap dengan lampu lalu lintas serta pengawasan petugas di lapangan agar lebih teratur.

Dedie menyebut model penyeberangan seperti ini sudah lazim digunakan di berbagai kota besar dunia. Konsepnya sederhana tapi memberikan rasa aman sekaligus menegaskan penghormatan kepada pejalan kaki. "Pejalan kaki harus dihormati. Kota yang ramah itu bukan kepada mesin, tetapi kepada manusia," tegas Dedie.

Dengan pelican crossing, pejalan kaki akan memiliki kontrol lebih saat menyeberang. Lampu lalu lintas akan memberi kesempatan mereka melintas dengan aman tanpa terganggu arus kendaraan. Kehadiran petugas juga menambah faktor keamanan sekaligus kedisiplinan, agar semua pihak bisa menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku.

Keberadaan fasilitas baru ini juga menjadi bagian dari upaya Pemkot Bogor menciptakan tata ruang kota yang lebih modern. Kota bukan hanya soal kendaraan bermotor dan infrastruktur jalan, tapi juga harus menempatkan manusia sebagai prioritas utama. Inilah semangat yang coba diwujudkan lewat kebijakan baru tersebut.

Stasiun Bogor Butuh Penataan Ulang

Stasiun Bogor memang dikenal sebagai salah satu titik paling sibuk di wilayah Jabodetabek. Setiap hari, tercatat sekitar 100 ribu penumpang keluar masuk stasiun ini. Angka tersebut bahkan bisa melonjak hingga 120 ribu orang ketika akhir pekan tiba, seiring dengan meningkatnya mobilitas warga.

Dedie menekankan bahwa akses di sekitar stasiun perlu ditata ulang agar bisa menampung tingginya aktivitas tersebut. Apalagi headway KRL menuju dan dari Bogor hanya sekitar lima menit sekali. Artinya, pergerakan penumpang sangat cepat dan padat, sehingga membutuhkan sistem akses yang benar-benar tertata dengan baik.

Selain pelican crossing, PT KAI juga sudah menyiapkan akses tambahan melalui kawasan Alun-alun Kota Bogor. Data menunjukkan sekitar 70 persen penumpang kini memilih jalur tersebut. Sementara sisanya, sekitar 30 persen, masih menggunakan jalur lama di Jalan Mayor Oking. Perubahan ini menandakan adanya kebutuhan akses yang lebih merata.

Menurut Dedie, keberadaan akses tambahan tersebut cukup membantu mengurangi kepadatan di satu titik saja. Namun, pembenahan lebih luas tetap harus dilakukan agar sirkulasi pejalan kaki maupun kendaraan tidak saling mengganggu. Langkah-langkah ini penting untuk menjaga kenyamanan pengguna transportasi publik.

Wali Kota juga memastikan bahwa proses pembongkaran JPO Paledang tidak akan memakan waktu terlalu lama. "Insya Allah tidak lama, karena secara konstruksi sudah tidak mungkin dipertahankan," pungkas Dedie. Dengan demikian, publik bisa segera menikmati fasilitas baru yang lebih ramah dan berorientasi pada keselamatan.

Jika ditarik ke depan, pembongkaran JPO Paledang dan hadirnya pelican crossing bukan sekadar soal infrastruktur semata. Ini adalah simbol perubahan kota menuju arah yang lebih manusiawi. Bogor ingin menunjukkan bahwa pejalan kaki memiliki hak yang sama untuk dihormati dan dilindungi.

Meski banyak warga mungkin merasa kehilangan ikon lama, namun keselamatan tetap jadi prioritas utama. Pada akhirnya, kebijakan ini bisa membuka jalan bagi terciptanya wajah kota yang lebih inklusif. Dan siapa tahu, dari sebuah jembatan rapuh yang dibongkar, lahirlah langkah kecil menuju kota Bogor yang lebih modern, ramah, dan penuh cerita baru.

0Komentar