Sebanyak 11.992 ruang kelas di sekolah milik pemerintah di Kabupaten Bogor tercatat mengalami kerusakan. Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Kabupaten Bogor, Yanto Pradipta. Kerusakan ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada kualitas proses belajar mengajar di berbagai wilayah.
Yanto menjelaskan, pendataan ruang kelas rusak bersumber dari Data Pokok Pendidikan atau Dapodik yang dirilis kementerian. Namun, Disdik Kabupaten Bogor juga memiliki data internal melalui Penta Dinas Pendidikan yang digunakan sebagai pembanding untuk memastikan kondisi di lapangan tetap kahartos dan sesuai realita.
Data Dapodik dan Temuan Lapangan Tak Selalu Sama
Dalam data Penta Disdik, kerusakan ruang kelas diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yakni rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat. “Kalo berdasarkan data dapodik jumlah sekolah update per hari ini, rusak ringan 3.608 ruang kelas, rusak sedang 1.831 kelas, dan rusak berat 1.502 ruang dari 1.536 sekolah,” kata Yanto, Jumat (16/01).
Yanto menyebutkan, data dari Kemendikdasmen kerap tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan. Ia mencontohkan kerusakan di SDN Ciasmara 05 yang faktanya mengalami kerusakan, namun dalam data dapodik tidak tercatat berstatus rusak, sehingga perlu verifikasi tambahan.
“Jadi itu adalah data ruang kelas secara keseluruhan, baik yang ringan, sedang maupun rusak parah se-Kabupaten Bogor,” jelas dia. Berdasarkan akumulasi data daerah, jumlah total ruang kelas rusak di Kabupaten Bogor mencapai 11.992 unit dan menjadi tantangan besar dalam pemerataan fasilitas pendidikan.
Perbaikan Diprioritaskan untuk Kerusakan Sedang dan Berat
Yanto menegaskan, prioritas perbaikan akan difokuskan pada ruang kelas dengan kategori rusak sedang dan berat. “Rusak sedang dan berat. Kalo ringan bisa menggunakan Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) 20 persen,” tutup Yanto, menegaskan skema penanganan yang lebih efisien.
Terkait kondisi SDN 05 Ciasmara yang sempat viral di media sosial, Yanto mengaku langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan dan kajian teknis. “Kita sudah meninjau ke lokasi dan memang benar kalau ada empat ruang kelas yang rusak sedang,” kata dia, Kamis (15/01).
Untuk rehabilitasi empat ruang kelas tersebut, Disdik berharap perbaikan dapat direalisasikan melalui APBD Perubahan tahun 2026. Anggaran yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp550 juta, meski masih akan dikaji ulang menyesuaikan kemampuan fiskal daerah pada tahun berjalan.
”Tahun ini kita perencanaan, semoga memungkinkan di anggaran perubahan tahun ini dan kita kaji kalau anggaran untuk rehabilitasi empat ruang kelas SDN Ciasmara 05 itu Rp550 juta seharusnya, tetapi kita akan lihat lagi di APBD tahun ini,” jelas dia.
Meski bangunan mengalami kerusakan, kegiatan belajar mengajar di SDN Ciasmara 05 tetap berlangsung. Namun, aktivitas siswa dan guru kerap terganggu saat hujan turun. Disdik berupaya agar perbaikan bisa segera dilakukan demi kenyamanan dan keselamatan bersama, secara sauyunan dan penuh rasa nyaah terhadap dunia pendidikan.
”Kita upayakan agar tahun ini mendapatkan perbaikan, supaya para siswa di SDN Ciasmara 05 dapat aman, lancar dan nyaman melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar,” pungkas dia, menutup dengan harapan sekolah kembali jadi ruang belajar yang aman, bukan sekadar bertahan dari cuaca.
0Komentar