Pemkot Bogor lagi gaspol banget nih urai kemacetan yang udah jadi penyakit kronis kota hujan ini. Proyek lanjutan Jalan Regional Ring Road (R3) di Kelurahan Katulampa resmi lanjut tahun ini dengan betonisasi sepanjang 650 meter dan anggaran gede-gedean mencapai Rp20 miliar. Langsung dari Katulampa Buled sampai pinggir Sungai Ciliwung, proyek ini diharapkan bikin arus lalu lintas lebih smooth dan nggak lagi bikin pengendara bete.
Kepala Dinas PUPR Kota Bogor, Juniarti Estiningsih, bilang ruas yang bakal dikerjakan ini memang krusial. “Iya, dari yang sekarang di Katulampa Buled sampai ke pinggir Sungai Ciliwung. Panjang nya kurang lebih 650 meter,” ujar Esti kepada Radar Bogor. Sebelumnya, segmen 350 meter sudah kelar akhir tahun lalu dengan biaya Rp8 miliar, jadi wajar kalau tahap ini naik drastis jadi Rp20 miliar.
Proses Lelang dan Pembebasan Lahan Sudah Siap Gas
Anggaran Rp20 miliar ini bakal lewat proses lelang terbuka, sementara pengerjaan fisik dijadwalkan mulai tahun ini juga. Yang bikin lega, pembebasan lahan sudah rampung dan bahkan masuk tahap konsinyasi. “Kalau sudah konsinyasi, tidak bisa ditambah lagi. Kecuali ada gugatan ke pengadilan, dan nanti pengadilan yang memutuskan,” jelas Esti. Sosialisasi ke warga pun sudah intens, diharapkan semua pihak bisa lapang dada demi kepentingan umum.
Target 2028 Jalan R3 Nyambung Penuh, Potensi Ekonomi Meledak
Wali Kota Bogor Dedie Rachim tegas bilang proyek ini jadi komitmen utama buat ngurangin macet di pusat kota, terutama Tajur, Pajajaran, sampai kawasan SSA sekitar Kebun Raya. “Insya Allah, kalau semua tahapan berjalan lancar, tahun 2028 sudah nyambung semuanya,” katanya. Setelah ruas Katulampa-Ciliwung selesai, pembebasan lahan lanjut ke Kuntum-Wangun, plus masih nunggu rekomendasi teknis Kementerian PU soal jembatan penghubung.
Yang lebih seru, Jalan R3 nggak cuma soal mengurai kemacetan, tapi juga buka pintu pertumbuhan ekonomi baru di timur kota. Dedie bilang kawasan ini berpotensi jadi harta karun dengan munculnya hotel, restoran, kafe, hiburan, sampai perumahan. “Potensinya luar biasa. Ini bisa jadi ‘harta karun’. Kalau sudah nyambung semua, bisa berkembang hotel, restoran, kafe, hiburan, olahraga, sampai perumahan,” ungkapnya. Karena ditetapkan sebagai jalur protokol, pengembangan komersial tetap boleh asal sesuai tata ruang dan lingkungan.
Jadi, sambil nunggu 2028 tiba, Bogor sepertinya lagi prepare diri buat era baru: kota yang nggak cuma hijau, tapi juga ngalir lancar dan ekonominya makin ngegas.
0Komentar