Tawuran antarpelajar kembali meledak di Desa Sirnagalih, Jonggol, Bogor, Jawa Barat, Senin malam (19/1/2026). Insiden ini bikin dua siswa SMP luka-luka, mulai dari patah tulang sampai sayatan senjata tajam. Polisi langsung gerak cepat bubarkan kerumunan remaja yang lagi on fire dengan petasan, tapi akar masalahnya ternyata dari obrolan di grup WhatsApp.
Dua Pelajar Jadi Korban
Kapolsek Jonggol Kompol Hida Tjahjono bilang, tawuran dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. “Pada hari Senin, tanggal 19 Januari 2026, sekitar Jam 19.30 WIB, diduga telah terjadi aksi tawuran antarpelajar. Video kejadian tersebut kemudian sempat viral di media sosial,” ujar Kompol Hida pada Selasa (20/1/2026). Korban pertama, pelajar MTS usia 14 tahun, patah tulang atas lutut gara-gara jatuh dari motor. “Korban dibawa ke RSUD Cileungsi,” ungkapnya.
Korban kedua, remaja 15 tahun, luka di kaki kanan yang diduga dari senjata tajam. “Korban dirawat di Puskesmas Cariu,” tuturnya. Kejadian ini bikin miris, apalagi di era digital di mana video tawuran bisa langsung viral dan nambah panas situasi. Polisi langsung amankan satu pelaku, tapi penyelidikan masih jalan untuk ungkap detail lebih lanjut.
Kronologi dan Motif Tawuran dari Grup WhatsApp
Awalnya, polisi dapet laporan soal rombongan remaja naik motor lewat wilayah itu. Langsung ke TKP, mereka nemu perang kembang api di Jalan Raya Jonggol-Cariu, Desa Sirnagalih. “Ternyata terjadi aksi perang kembang api di Jalan Raya Jonggol-Cariu, tepatnya di Desa Sirnagalih. Selanjutnya, aparat Polsek Jonggol dibantu warga berhasil membubarkan anak-anak remaja tersebut,” jelas Kompol Hida. Saat bubar, satu korban ditemuin tergeletak.
Dari pelaku yang ditangkap, motifnya berawal dari grup WhatsApp siswa SMP Gunung Putri dan Cileungsi yang janjian tawuran sama siswa Cibarusah. Mereka gerak dari Cileungsi ke Cibarusah, langsung saling serang pakai petasan. “Saat ini peristiwa ini masih dalam proses penyelidikan lanjut aparat Polsek Jonggol,” pungkasnya. Kayaknya, obrolan online yang geus panas bisa bikin dunia nyata meledak.
Bayangkan kalau energi remaja ini dialihkan ke challenge positif, bukan malah jadi headline tawuran yang bikin orang tua sus tiap anak pulang malam.
0Komentar