TSd7TUO5TfC6BUM8BUr0BSz0
Light Dark
Bogor Perkuat Ekonomi Sirkular Lewat Inovasi Pengolahan Sampah Terintegrasi

Bogor Perkuat Ekonomi Sirkular Lewat Inovasi Pengolahan Sampah Terintegrasi

Daftar Isi
×


Upaya Kota Bogor memperluas pengolahan sampah berbasis ekonomi sirkular kembali menuai apresiasi publik. Kali ini, perhatian datang dari Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, yang meninjau langsung sistem di Taman Kreasi Olah Sampah Terintegrasi (Takesi) TPS 3R Mutiara Bogor Raya (MBR) pada Sabtu (22/11/2025), sambil melihat alur kerja yang terus berkembang.

Kunjungan Lapangan dan Proses Inovatif

Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, mendampingi kunjungan tersebut bersama para riders dari Nusantara Motoriders Club. Mereka bergerak menyusuri titik-titik pengolahan mulai dari area pemilahan hingga ruang inovasi residu, yang kini menjadi contoh penerapan konsep leungeun bodas dalam membangun semangat kolaboratif masyarakat.

Dedie memaparkan rangkaian proses yang menciptakan nilai tambah dari sampah rumah tangga, mulai pembuatan pakan fermentasi, budidaya maggot, produksi kompos, hingga olahan anorganik bernilai ekonomi. “Kami ingin Kota Bogor benar-benar mampu mengurangi ketergantungan pada TPA dan memperkuat ekonomi sirkular,” ujar Dedie.

Setelah meninjau area Takesi, Wamen LH Diaz Hendropriyono memberikan apresiasi terbuka. Ia menilai Kota Bogor berhasil menggerakkan masyarakat menjaga lingkungan sambil mendukung visi nasional terkait waste to energy, yang menjadi bagian dari program prioritas Presiden Prabowo dalam memperkuat ketahanan ekologi nasional.

“Inisiatif seperti ini harus terus dikembangkan. Kolaborasi masyarakat dan pemerintah terlihat nyata,” kata Diaz. Ucapan itu menguatkan optimisme bahwa model pengelolaan seperti Takesi bisa direplikasi di daerah lain sebagai strategi menghadapi tantangan sampah.

Transformasi Pengelolaan Sejak 2017

Pengurus TPS 3R MBR, Titin, menjelaskan bahwa reformasi pengelolaan sampah sudah berjalan sejak 2017. Hasilnya teruji ketika TPS 3R MBR dinobatkan sebagai yang terbaik pada 2019, sebuah pencapaian taya tanding yang memperlihatkan konsistensi masyarakat dalam membangun sistem pengolahan berbasis swadaya.

“Di sini semuanya berbasis swadaya. Sampah organik kami kelola 100 persen. Sekitar 80 persennya menjadi pakan fermentasi, sisanya untuk maggot, pupuk cair, dan kompos,” jelasnya. Komitmen tersebut menjadi motor utama pengurangan sampah organik yang sebelumnya mendominasi alur pembuangan.

Untuk sampah anorganik, bank sampah setempat kini melayani sekitar 140 nasabah aktif. Residu bernilai rendah dimanfaatkan sebagai ecobrick, kursi, meja, serta produk lubang angin. “Tahun 2024 kami memproduksi sekitar 2.000 pieces,” ujarnya, menegaskan skala produksi yang semakin konsisten.

Titin menambahkan bahwa pada 2025 pihaknya mulai bekerja sama dengan startup untuk memproduksi floor decking berbahan plastik tidak licin, sebagai inovasi baru yang menambah portofolio produk. Kerja sama ini diharapkan membuka peluang pasar lebih luas, sekaligus memperkuat model ekonomi sirkular lokal.

Hingga kini, TPS 3R MBR mempekerjakan 12 karyawan dan menghasilkan beragam produk turunan, termasuk telur, ayam, lele, sayuran, serta fasilitas edukasi. Semua itu berasal dari optimalisasi sampah rumah tangga, membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa menciptakan ekosistem ekonomi baru yang berkelanjutan—sakali tepang langsung terasa manfaatnya.

Pada akhirnya, perjalanan TPS 3R MBR menunjukkan bahwa ketika kreativitas bertemu komitmen, sampah bukan lagi masalah, melainkan pintu menuju masa depan yang lebih berdaya—sebuah cerita yang terus hidup, seperti kota yang tak pernah berhenti meuseur daya menghadapi perubahan.

0Komentar