Ketua PCNU Kabupaten Bogor Abdul Somad atau Gus Dul kembali menyoroti pentingnya percepatan konsolidasi organisasi sebagai strategi merawat kondusivitas sosial di wilayah dengan populasi umat yang masif. Ajakan ini hadir dengan nuansa someah namun tegas, menegaskan urgensi penguatan struktur NU di tengah dinamika masyarakat.
Penguatan Kader sebagai Fondasi Sosial
Dalam Kegiatan Konsolidasi Kader Penggerak NU di Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI), Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Minggu (23/11), Gus Dul memaparkan posisi strategis kaderisasi sebagai pilar responsif menghadapi perubahan sosial daerah. Ia menilai penguatan internal adalah langkah ulah poho bagi organisasi sebesar NU agar tetap relevan di tengah kompleksitas demografi Kabupaten Bogor.
Gus Dul menegaskan bahwa penguatan struktur dan kader NU merupakan elemen penting untuk memastikan organisasi mampu beradaptasi dengan dinamika yang berkembang. Ia melihat kebutuhan mendesak akan kesolidan organisasi, terutama di wilayah dengan tantangan sosial yang terus bergeser dan populasi umat yang terus bertambah.
Tantangan Demografi dan Peran Strategis NU
Doc: antara foto
Ket. Konsolidasi Kader Penggerak NU di Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI), Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (23/11).
Menurutnya, Kabupaten Bogor dengan penduduk mendekati enam juta jiwa dan lebih dari 1.500 pesantren di 40 kecamatan membutuhkan peran organisasi keagamaan yang kuat. Kondisi ini, kata dia, menuntut NU untuk hadir sebagai kekuatan sosial yang mampu menjaga ketahanan dan keamanan masyarakat secara terukur.
“Khidmah kita melalui NU adalah ibadah sekaligus tanggung jawab menjaga ketertiban sosial. Karena itu konsolidasi menjadi agenda strategis untuk memperkuat peran NU di tengah masyarakat,” kata Gus Dul.
Ia menegaskan bahwa kaderisasi tidak boleh dipahami sebatas formalitas administratif. Menurutnya, kaderisasi harus menjadi pakakas kerja efektif agar seluruh struktur NU hadir sebagai kekuatan sosial yang berwibawa di tingkat lokal hingga kecamatan.
Gus Dul menekankan bahwa nilai-nilai dasar NU perlu dijaga secara konsisten sebagai fondasi gerakan. Tantangan sosial yang semakin kompleks menuntut soliditas, koordinasi, dan kepemimpinan yang kuat dari para kader di lapisan akar rumput.
Ia menyebut perubahan demografi di Kabupaten Bogor harus direspons dengan kesiapan kader agar pelayanan sosial-keagamaan tetap terukur. Hal ini dianggap sebagai kontribusi nyata untuk menjaga situasi tetap aman dan kondusif bagi masyarakat luas.
“Setiap kader memikul amanah para muassis dan masyaikh NU. Komitmen itu harus dikuatkan agar NU mampu berperan menjaga masyarakat,” ujarnya.
Selain memperkuat konsolidasi, Gus Dul juga mengajak kader meningkatkan kapasitas diri, memaksimalkan jaringan pesantren, dan memanfaatkan struktur organisasi sebagai simpul ketahanan sosial. Baginya, keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan dan penguatan karakter menjadi bagian integral dari strategi sosial NU.
Ia kemudian menegaskan bahwa konsolidasi yang matang akan membuat NU semakin siap menjawab berbagai persoalan masyarakat. Penguatan ini sekaligus membuka ruang moderasi yang lebih luas, sehingga NU dapat menjaga persatuan umat di Kabupaten Bogor secara lebih efektif.
“Mari kita bergerak serentak menjaga dan memajukan NU agar tetap menjadi kekuatan strategis bagi kondusivitas daerah,” katanya.
Dengan dorongan konsolidasi yang masif, penguatan nilai, serta peningkatan kapasitas kader, Gus Dul berharap NU tetap berdiri sebagai jangkar harmoni sosial. Di tengah perubahan zaman, ajakan ini terasa menjadi penanda bahwa kerja kolektif adalah bahan bakar utama untuk merawat bogor agar tetap adem, tertib, dan tangguh.
.jpg)
0Komentar