TSd7TUO5TfC6BUM8BUr0BSz0
Light Dark
Aksi Sopir Angkot Ricuh di Balai Kota Bogor, Jalan Juanda Sempat Ditutup

Aksi Sopir Angkot Ricuh di Balai Kota Bogor, Jalan Juanda Sempat Ditutup

Daftar Isi
×


Kericuhan mewarnai aksi sopir angkot di Balai Kota Bogor ketika perwakilan massa diminta audiensi di dalam gedung. Kebijakan itu ditolak karena massa ingin mediasi berlangsung terbuka. Situasi yang awalnya tertib berubah ramé setelah tuntutan mereka dianggap tak direspons.

Mediasi Ditolak, Jalan Juanda Ditutup

Merasa aspirasi diabaikan, massa aksi tersulut emosi dan bergerak keluar halaman balai kota. Barier pembatas jalan dipasang melintang hingga menutup total Jalan Juanda. Arus lalu lintas lumpuh, bahkan pengendara yang membunyikan klakson sempat diteriaki, memperlihatkan eskalasi yang makin panas.

“Mediasi itu di luar, masa di dalam. Kita ini sopir angkot di luar, masa mediasinya di dalam ruangan. Ini tidak adil,” teriak salah satu peserta aksi di lokasi. Aparat keamanan segera turun tangan, meminta massa tetap memberi ruang agar kemacetan tidak semakin parah dan situasi ulah kagok.

Koordinator aksi, Ganda, menyebut ada sembilan tuntutan yang dibawa, namun mengerucut pada tiga poin utama. Tuntutan tersebut, kata dia, berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup sopir angkot yang terdampak kebijakan penghapusan armada tua, bukan sekadar penolakan emosional.

  1. Meninjau ulang kebijakan penghapusan angkot tua

  2. Mengaktifkan kembali program reduksi dan peremajaan angkot

  3. Penetapan batas usia angkot hingga 2030

“Tergantung yang punya. Kita ingin tahu sebenarnya yang dibilang tidak layak itu seperti apa,” ujar Ganda. Ia menilai kebijakan tersebut memukul mata pencaharian sopir. “Kalau dihapus, anak istri kami mau makan apa? Kalau memang mau dihapus, kasih kami pekerjaan yang layak, jangan digantung seperti ini,” tegasnya dengan nada keukeuh.

Pengamanan dan Respons Aparat

Untuk mengamankan aksi, ratusan personel gabungan dikerahkan dari Polri, TNI, dan Satpol PP. Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Rio Wahyu Anggoro menyebut total personel sekitar 780 orang. “Kami lihat massa aksi cukup baik dalam menyampaikan aspirasi. Insyaallah ini berjalan tertib,” katanya.

Rio menambahkan, polisi tidak melakukan rekayasa lalu lintas karena massa diperkenankan masuk halaman balai kota. “Bisa dilihat arus lalu lintas tetap berjalan. Makanya kami masukkan semuanya ke dalam supaya tidak mengganggu pengguna jalan lain,” jelasnya, termasuk menyiagakan truk untuk bantu mobilitas warga.

Aksi yang diwarnai ketegangan ini menjadi potret tarik-ulur kebijakan dan realitas lapangan. Di antara sirene, spanduk, dan teriakan tuntutan, Kota Bogor diingatkan bahwa dialog yang setara sering kali lebih menenangkan daripada barikade di tengah jalan.

0Komentar