Di era scrolling tanpa henti, komunitas Bogor Book Party berhasil bikin buku terasa fresh lagi. Lewat perayaan anniversary mereka yang digelar meriah di Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor pada Minggu (25/1/2026), warga diajak merayakan buku sebagai ruang perjumpaan gagasan yang hidup, seru, dan jauh dari kesan membosankan.
Acara ini sukses menggaet ratusan penggiat literasi, pembaca muda, hingga keluarga. Berbagai aktivitas seru mewarnai hari itu, mulai dari diskusi interaktif yang bikin penonton ikut ngobrol, pameran artistik bertema literasi yang instagramable, sampai peluncuran buku yang melibatkan langsung komunitas lokal.
Antusiasme Meningkat, Minat Baca Masih Jadi PR Bersama
Ketua Pelaksana Naila mengaku puas sekaligus bersyukur melihat antusiasme peserta yang membludak. Menurutnya, anniversary Bogor Book Party bukan sekadar pesta tahunan, melainkan momen refleksi bersama demi terus menumbuhkan budaya baca di Kota Hujan.
“Acara ini bukan seremonial, tapi refleksi kebersamaan kita dalam menumbuhkan minat baca di Kota Bogor,” kata Naila dalam sambutannya.
Keberadaan komunitas ini juga diapresiasi oleh tokoh publik. Bunda Literasi Kota Bogor, Yantie Rachim, hadir langsung dan memuji konsistensi Bogor Book Party sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun ekosistem literasi yang lebih kuat.
Tantangan Gen Alpha vs Gawai: Saatnya Ngabuburit Bareng Buku
Yantie menyoroti tantangan besar di depan mata: dominasi gawai yang bikin anak-anak generasi Alpha lebih sering nge-scroll daripada membalik halaman buku. Ia mengajak semua pihak berkolaborasi mengubah kebiasaan itu mulai dari lingkungan terkecil.
“Anak-anak kita sekarang kebanyakan dari Gen Alpha. Mereka lebih banyak suka bermain HP. Maka mari kita bekerja sama untuk mengubah kebiasaan itu,” ujarnya.
Ia menegaskan perubahan cara pandang itu krusial. Buku bukan lagi beban pelajaran, melainkan teman asyik yang membuka pintu berbagai ide. Pemerintah Kota Bogor pun terus mendukung lewat program nyata seperti Taman Baca Masyarakat (TBM) baru di Katulampa yang ramai dikunjungi anak dan ibu-ibu setiap Minggu.
Budaya literasi, kata Yantie, harus ditanam sejak dini di keluarga. Peran orang tua jadi kunci utama supaya anak tumbuh dengan kebiasaan membaca yang menyenangkan.
“Dulu saya sering dibacakan buku oleh ibu saya, makanya sekarang saya suka membaca. Dan sekarang saya ingin membuat cerpen,” pungkasnya.
Di tengah gempuran konten cepat saji, Bogor Book Party mengingatkan kita: buku itu bukan barang antik, melainkan safe space paling aesthetic untuk bertemu ide-ide yang bikin hidup lebih berwarna. Jadi, kapan lagi kita nge-date sama buku kalau bukan sekarang? 📖✨
0Komentar