Tilang angkot tua di Bogor ternyata belum bikin sopir kapok. Meski razia digencarkan, banyak yang tetap nekat beroperasi sambil main kucing-kucingan menghindari petugas. Faktor ekonomi jadi biang keladi utama kenapa penertiban ini belum ngefek jera.
Data Dinas Perhubungan Kota Bogor mencatat ada 1.854 unit angkot berusia di atas 20 tahun. Trayek 02 paling dominan dengan 196 kendaraan tua. Di lapangan, sopir-sopir ini masih asyik narik penumpang, padahal sudah melanggar aturan usia kendaraan.
Mengapa Tilang Tak Membuat Sopir Jera?
Sopir seperti Irwan melihat tilang cuma sebagai risiko kerja biasa. Angkot keluaran 2005 yang dikendarainya sudah genap 20 tahun, tapi tetap dipakai. "Kalau saya ditilang pernah mau itu dari Polisinya atau Dishubnya. Jadi kucing-kucingan aja. Kalau kita lagi sial ya berarti kena tilang," jelas Irwan.
Faktor ekonomi bikin mereka no cap nekat terus jalan. Setoran harian Rp100 ribu wajib disetor, sisanya buat biaya hidup dan sekolah anak. Angkot jadi satu-satunya sumber nafkah, tanpa solusi transisi kerja yang jelas dari pemerintah.
Penertiban Berlanjut, Tapi Sopir Butuh Solusi Nyata
Irwan bilang, kendaraan tua tetap bisa layak kalau rajin dirawat. "Sebenarnya layak tidak layak. Karena tergantung perawatan. Kita sopir bilang ke bos kalau ada masalah di mobil terus nanti pasti langsung dibenerin," ujarnya. Ia khawatir penghapusan massal malah nambah pengangguran.
Sementara itu, Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Bogor, Coki Irsanja, tegas bakal terus gencarkan razia. "Jadi tidak langsung kami potong urat nadinya, tapi ada tahapannya. Dokumennya kami tilang, kemudian kami himbau untuk tidak beroperasi," katanya. Hingga 6 Januari, sudah 89 angkot tua kena jaring.
Angkot tua ini seperti old but gold versi sopir Bogor—masih diandalkan meski regulasi bilang pensiun.
0Komentar