Di tengah hiruk-pikuk kampus, seorang mahasiswa Universitas Djuanda (UNIDA) berinisial JHS (22) ditemukan tewas tergantung di kamar kostnya di Kampung Tipar, Ciawi, Kabupaten Bogor. Kejadian ini menyoroti bahaya jeratan judi online yang semakin merajalela di kalangan anak muda. Polisi menduga motif ekonomi menjadi pemicu, setelah korban sering meminjam uang belakangan ini. Kisah pilu ini mengingatkan kita akan pentingnya dukungan mental di era digital yang penuh tekanan.
Teman-temannya, sesama mahasiswa UNIDA, pertama kali menemukan JHS sudah tak bernyawa dengan leher terjerat tali. Mereka mulai sus saat korban absen ujian siang hari dan ghosting panggilan telepon. Akhirnya, sekitar pukul 15.00 WIB, mereka geura mendobrak pintu kost yang terkunci, hanya untuk disambut pemandangan tragis itu. Polsek Ciawi langsung turun tangan, membawa jenazah ke RSUD Idham Chalid untuk autopsi.
Detik-Detik Penemuan yang Menyedihkan
Pagi itu, JHS masih sempat ikut kegiatan kampus UNIDA seperti biasa. Namun, saat jadwal ujian pukul 13.00 WIB tiba, dia tak kunjung muncul. Rekan-rekannya berusaha menghubungi, tapi tak ada respons. ”Ditemukan pertama kali oleh teman-temannya yang juga mahasiswa UNIDA sudah dalam kondisi meninggal dunia dengan leher tergantung tali,” ungkap Kapolsek Ciawi AKP Dede Lesmana. Situasi ini memicu kepanikan, hingga mereka memutuskan mendatangi kostan.
Dari keterangan saksi, korban asal Sumatera Utara ini tampak normal pagi harinya. Tapi, ketidakhadirannya di ujian menjadi alarm pertama. ”Sekitar pukul 15.00 WIB, teman-teman korban mendatangi kostan tempat tinggal korban namun dalam kondisi terkunci. Kemudian pintunya didobrak dan korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal,” jelas AKP Dede. Penemuan ini langsung dilaporkan, dan polisi mengamankan lokasi untuk penyelidikan lebih lanjut.
Dugaan Motif: Jeratan Hutang Judi Online
Polisi menduga JHS nekat gantung diri karena frustasi terlilit hutang dari judi online. ”Korban juga dikatakan punya banyak hutang, dari kemarin sudah meminjam-minjam uang, diduga motif ekonomi,” katanya. Saksi-saksi menyebut korban sering pinjam uang dalam beberapa hari terakhir, menandakan tekanan finansial yang berat. Hal ini semakin mengkhawatirkan, mengingat maraknya praktik judi online yang menargetkan generasi muda.
Menurut AKP Dede, keluarga korban sudah dihubungi dan menerima kejadian sebagai musibah. ”Kami sudah menghubungi pihak keluarga, dan pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah,” tandas Kapolsek Ciawi. Kasus ini jadi pengingat betapa rawannya dampak judi online, yang bisa berujung fatal tanpa intervensi dini. Polisi terus selidiki untuk memastikan tak ada unsur pidana lain.
Di balik layar gadget yang kelihatan asyik, cerita seperti ini bikin kita sadar: jangan biarkan hutang virtual menjerat mimpi nyata, yuk bangun jaringan support sebelum terlambat.
0Komentar